Library Value in the Developing World #1


Menunjukkan “nilai lebih” bagi masyarakat dalam sebuah institusi telah menjadi kegiatan yang penting dalam perpustakaan akademik di seluruh dunia. Konsep nilai perpustakaan bisa diterjemahkan dalam beberapa cara: nilai bagi pengguna dalam hal dukungan dan layanan yang diberikan; nilai untuk institusi induknya dalam hal kontribusi mendukung tujuan dan misi institusi; atau nilai ekonominya dalam hal pengembalian investasi yang telah diberikan untuk perpustakaan. 

Studi berjudul “Working together: evolving value for academic libraries” (McCreadie, 2013) memperlihatkan bahwa perpustakaan di negara berkembang mulai menyadari pentingnya evaluasi tingkat dukungan dan layanan yang mereka berikan. Perpustakaan di negara berkembang mulai mengekplorasi layanan tambahan yang dapat mereka berikan pada masyarakat di lingkungan pendidikan, tapi layanan ini tidak diberikan secara luas. Studi kasus dan survey menemukan bukti bahwa secara keseluruhan perpustakaan diterima baik oleh institusinya walaupun ada juga hambatan yang mereka hadapi. Komunikasi, dan membangun hubungan natara perpustakaan dan bagian akademik merupakan kunci untuk mengubah perilaku dan persepsi untuk mendapatkan dukungan fakultas/universitas. Dengan meningkatkan transparansi dan kesadaran tentang apa yang bisa perpustakaan lakukan untuk mendukung proses belajar mengajar dan penelitian merupakan komponen kunci dalam memperlihatkan nilai lebih perpustakaan bagi mereka.

Penemuan dalam studi ini antara lain:
  • Lima puluh institusi yang disurvey tidak menggunakan, atau tidak menyadari akan koleksi elektronik yang mereka miliki. Sumber-sumber elektronik tidak selalu digunakan/diakses.
  • Koneksi internet masih menjadi kendala bagi kebanyakan perpustakaan di negara berkembang
  • Bangunan perpustakaan secara fisik masih menjadi hal penting bagi institusi di negara berkembang
  • Umumnya (2/3) perpustakaan di negara berkembang percaya bahwa perpustakaan, baik bagi fakultas atau universitas, dinilai dari koleksi-nya
  • Fakultas tidak selalu mengetahui layanan yang ditawarkan oleh perpustakaannya selain akses terhadap informasi – sebagian dari fakultas yang disurvey tidak mengetahui atau menggunakan layanan tambahan tersebut.
  • Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa perpustakaan di negara berkembang mendukung kegiatan pembelajaran, tapi untuk mendukung penelitian tidak terlalu berkembang.
  • Komunikasi antara perpustakaan, institusi, dan individu tidak selalu efektif dan transparan. Enam fakultas dalam studi kasus di universitas tidak mengetahui harus menghubungi siapa di perpustakaan.
  • Ada kebutuhan untuk meningkatkan investasi dalam marketing di perpustakaan. Ada semacam sesuatu yang tidak selaras antara pustakawan dengan fakultas mengenai marketing yang efektif.
  • Memperkuat website perpustakaan merupakan hal penting dalam menyediakan akses terhadap sumber-sumber elektronik dan merupakan alat komunikasi yang paling penting antara perpustakaan dengan penggunanya. 
===
Informasi seminar: https://docs.google.com/forms/d/1mFXaGHeCJ4-V9VEvLDCAgbjqGxzG-7n28lR5IS8OGLQ/viewform